Rabu, 02 Oktober 2019

Pembukuan Al-Quran Pada Masa Utsman bin Affan


MAKALAH MATA KULIAH STUDI AL - QURAN
PEMBUKUAN AL- QURAN PADA MASA UTSMAN BIN AFFAN












Dosen : Prof.Dr.Moh. Ali Aziz, M.Ag
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

Disusun oleh :
Adelia Rizka Putri
(B95219083)




PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019


KATA PENGANTAR

            Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
            Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Quran.
            Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof.Dr.Moh. Ali Aziz, M.Ag dan Ibu Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I selaku dosen serta asisten dosen pada mata kuliah ini yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah.
            Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.





Surabaya, Agustus 2019




Adelia Rizka Putri



DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................. 2
Daftar Isi........................................................................................................................... 3
BAB I Latar Belakang Pembukuan  pada Masa Utsman Bin Affan................................ 4
A.    Pengumpulan Al-Quran................................................................................... 4
B.     Penggandaan Mushaf Al-Quran...................................................................... 8
BAB II Perbedaan Mushaf Al-Quran Abu Bakar r.a dan Utsman r.a............................ 11
A.    Pada Masa Abu Bakar................................................................................... 11
B.     Pada Masa Utsman bin Affan....................................................................... 15
BAB III Kesimpulan....................................................................................................... 18
Daftar Pustaka................................................................................................................. 20




BAB I
LATAR BELAKANG PEMBUKUAN
AL-QURAN PADA MASA UTSMAN BIN AFFAN

A.    Pengumpulan Al-Quran

            Setelah Umar bin Khattab wafat, timbullah suatu bencana yang membangkitkan Utsman untuk mengadakan perbaikan, sebagaimana bencana perang Yamamah yang membangkitkan Umar untuk mengadakan tindakan yang bijaksana. Setelah Khudzayfah bin Yaman pulang dari perang Arminiyah dan Adzribijan, ia menghadap Utsman untuk menyampaikan kekhawatiran akan munculnya pertentangan di antara kaum muslimin mengenai bacaan al-Quran dan memohon pada Utsman agar membina umat ini sebelum terjadi pertengkaran.

            Saran Khudfayah dikabulkan Utsman, sebagaimana saran Umar kepada Abu bakar. Kemudian Utsman mengirimkan surat kepada Hafshah binti Umar, istri Rasul, meminta shuhuf yang disimpannya. Setelah shuhuf ini dikirimkan kepada Utsman, dipanggillah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubayr, Sa’id bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, sebagai penulis wahyu, agar mereka menyalin shuhuf ini [1].


Kemudian disalinlah shuhuf ini menjadi tujuh mushaf dan setelah selesai penyalinannya, dikembalikanlah shuhuf ini kepada Hafshah dan tetap disimpannya hingga masa kekuasaan Marwan bin Hakam bin Abdi I’Ash. [2]

            Penyebaran Islam bertambah luas dan para qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qira’at) Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf dan dialek yang digunakan dengan turunnya al-Quran.

Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbedaan qira’at ini. Terkadang sebagian dari mereka merasa puas karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah.

Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah, sehingga terjadilah pembicaraan tentang bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling pertentangan bila terus tersiar, bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Makadari itu, fitnah yang demikian ini harus segera terselesaikan.
Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca al-Quran.

Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihat olehnya.

Utsman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itupun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qira’at kepada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh dengan keadaan di antara mereka terdapat perbedaan dalam qira’at. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf atau satu dialek.  

            Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepada Utsman [3].

B.     Penggandaan Mushaf Al-Quran

Tetaplah demikian keadaan al-Quran itu, artinya telah dituliskan dalam satu naskah yang lengkap. Di masa Utsman bin Affan, pemerintahan mereka telah sampai ke Aremania dan Azarbiyah di sebelah timur, dan Tripoli di sebelah Barat. Dengan demikian, terlihat bahwa kaum muslimin di waktu itu telah terpencar-pencar di Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika [4].

Ketika musyawarah para sahabat senior memutuskan Utsman bin Affan RA sebagai khalifah (kepala negara), peperangan di berbagai daerah masih terus berlangsung. Di medan perang ini, muncul permasalahan besar, yakni perselisihan bacaan al-Quran di kalangan prajurit. Maka oleh Utsman bin Affan dimintakan kepada Hafsah binti Umar lembaran-lembaran al-Quran yang ditulis pada masa Abu Bakar dahulu, yang disimpan oleh Hafsah untuk disalin. Hafsah memberikan lembaran-lembaran itu pada Utsman. Lalu  Utsman mengutus keempat sahabatnya yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin al-Zubair, Sa’id bin al-Ash, dan Abd al-Rahman bin al-Harits bin Hisyam untuk menyalin lembaran-lembaran wahyu dalam beberapa mushaf [5].
Dalam melaksanakan tugas ini, Utsman menasihatkan agar :
1.      Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal al-Quran.
2.      Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan menurut dialek suku Quraisy, sebab al-Quran sendiri pada dasarnya telah diturunkan menurut dialek suku Quraisy [6].
Ketika tugas tersebut selesai, maka lembaran-lembaran al-Quran yang dipinjam dari Hafsah itu dikembalikan lagi padanya.

            Al-Quran yang telah dibukukan itu, pada zaman Utsman bin Affan dinamai dengan “Mushaf Utsmani” dan oleh sahabat Utsman ditulis lima buah Al-Mushaf [7]. Utsman mengirimkan setiap mushaf hasil salinan keempat sahabatnya ke setiap penjuru daerah. Beliau juga memerintahkan untuk membakar setiap lembaran al-Quran yang berbeda dengan mushaf yang telah ditetapkan [8].






Berdasarkan berbagai riwayat yang ada, Schwally berpendapat bahwa pemusnahan terhadap mushaf non-Utsmani dan Fragmen al-Quran itu hanya terbatas pada beberapa kota saja, bahkan terbatas pada daerah Irak dan Siria [9].

Ya’qubi berkata, “Mereka telah mengumpulkan semua mushaf dari segala penjuru dan mendidihkannya ke dalam campuran air dan cuka kemudian mencucinya. Sebagian dari mereka berkata, “mereka membakar semua mushaf itu”. Hanya mushaf Ibnu Mas’ud saja yang masih tetap terjaga karena dia menolak untuk menyerahkannya kepada Abdullah bin Amir. Karena penolakan ini, Utsman menghadirkannya ke Madinah. Ibnu Mas’ud pun hadir ke Madinah ketika Utsman masih berpidato. Ketika mengetahui ada Ibnu Mas’ud Utsman berkata, “Sebentar lagi hewan berkaki empat yang buruk akan datang.” Ibnu Mas’ud menjawab ungkapan itu juga dengan kata-kata kasar. Pada saat itulah Utsman memerintahkan agar Ibnu Mas’ud diseret [10].



BAB II
PERBEDAAN MUSHAF AL-QURAN ABU BAKAR R.A DAN UTSMAN R.A

A.    Pada Masa Abu Bakar

Telah terang kita ketahui bahwa Al-Quran itu diturunkan berangsur-angsur. Setiap turun Al-Quran, Nabi Muhammad SAW menyuruh penulis wahyu untuk menulisnya. Kebanyakan sahabat menghafalnya. Akan tetapi, walaupun ditulis oleh para penulis wahyu, namun dia tidak akan terkumpul dalam suatu mushaf (suatu buku). Tentunya terdapat perbedaan latar belakang serta mushaf yang kita ketahui pada masa kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq dengan Utsman bin Affan.

 Pada saat kepemimpinan Islam dipegang oleh Abu Bakar terjadi peristiwa besar yakni kemurtadan sebagian orang islam dan pembangkangan pembayaran zakat [11].
Dalam menghadapi hal tersebut, Abu Bakar mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk menghadapi orang-orang yang murtad itu, maka terjadilah perang Yamamah pada tahun 12 Hijriyah. Peperangan tersebut melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal al-Quran dan dalam peperangan itu 70 qari’ dari para sahabat gugur. Peristiwa tersebut telah mendorong Umar bin Khattab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar agar segera menghimpun ayat-ayat al-Quran dalam suatu mushaf, karena beliau khawatir kehilangan sebagian al-Quran dengan wafatnya sebagian para penghafalnya.

Ide tersebut awalnya ditolak oleh Abu Bakar dengan alasan bahwa hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun setelah diadakan diskusi dan pertimbangan-pertimbangan secara seksama, ide tersebut diterima oleh Abu Bakar dan segera Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menghimpun ayat-ayat al-Quran dalam satu mushaf [12]. Para sahabat di masa Nabi SAW masih hidup menulis pada kepingan-kepingan tulang, pelepah-pelepah kurma dan pada batu-batu. Mereka menulis pada benda-benda tersebut karena kertas pada masa itu belum ada.

Orang pertama yang menghimpun al-Quran sesuai kehendak Rasulullah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Abu Abdullah Al-Muhasabi mengatakan dalam buku Fahmus-Sunan: “Penulisan al-Quran bukan soal baru, karena Rasulullah sendiri telah memerintahkan penulisannya. Tapi ketika itu masih terecer pada berbagai lembaran kulit dan daun, tulang-tulang unta dan kambing yang kering, atau pada pelepah kurma. Kemudian, Abu Bakar ash-Shiddiq memerintahkan pengumpulan menjadi sebuah naskah. Juga naskah al-Quran yang tertulis pada lembaran-lembaran kulit yang terdapat di dalam rumah Rasulullah saat itu masih dalam keadaan terpisah-pisah. Kemudian dikumpulkan oleh seorang sahabat, lalu diikatnya dengan tali agar tidak ada yang hilang” [13].

Zaid betul-betul merasakan sangat berat memikul pekerjaan besar yang dikehendaki Umar dan Abu Bakar. Kedua tokoh ini tidak menghendaki pekerjaan individual yang bebannya hanya dipikul seorang saja, melainkan menghendaki pekerjaan kolektif yang pertanggungjawabannya dipikul oleh pemerintah, dan diterbitkan atas nama pemerintah. Karena itulah Zaid berkata, “Demi Allah, seandainya saya diperintahkan memindahkan suatu gunung, tidaklah lebih berat bagi saya daripada diperintahkan mengumpulkan Al-Quran” [14].  Untuk itulah Zaid melakukan penelitian dengan cermat, tidak merasa cukup dengan Al-Quran yang dihafal dan ditulisnya, bahkan ia pernah mencari satu ayat yang hilang yang kemudian ditemukan pada seorang golongan anshar yang menulisnya yaitu ayat pada surah Al Ahzab,
33:23 yang artinya “Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah”.

Mushaf Abu Bakar dan Umar adalah mushaf resmi pertama yang dikumpulkan Zaid bin Tsabit dengan penelitian yang cermat, atas dukungan Abu Bakar dan Umar. Hanya saja mushaf resmi ini tidak sempat dikirimkan ke beberapa daerah. Kemungkinan karena terbunuhnya Umar itulah yang menunda pekerjaan itu [15].  

Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Qur’an karena banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban  dari para qari. Pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan semua tulisan atau catatan al-Quran yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang belulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dan mencakup ketujuh huruf sebagaimana Al-Quran itu diturunkan [16].














B.     Pada Masa Utsman bin Affan

Para sejarahwan berbeda pendapat dalam menentukan jumlah mushaf hasil kerja komite penyatuan mushaf pada zaman Utsman yang disebar ke seluruh penjuru negara Islam. Ibnu Abi Daud berpendapat bahwa jumlah mushaf-mushaf itu adalah enam jilid, masing-masing telah dikirim ke enam daerah penting Islam pada saat itu. Enam daerah Islam itu adalah Mekkah, Kufah, Bashrah, Syam, Bahrain, dan Yaman. Dia menambahkan bahwa selain enam jilid, ada satu jilid lagi yang disimpan di Madinah yang mereka sebut dengan nama Umm atau Imam.

Disebutkan bahwa Utsman mengirim Qari al-Quran ke setiap daerah untuk mengajarkan bacaan al-Quran sesuai dengan mushaf tersebut kepada masyarakat [17].

Pada masa Utsman, dalam menjalankan tugasnya, komite penyatuan mushaf melakukan tiga tahapan kerja :
1.      Mengumpulkan sumber-sumber serta referensi-referensi sahih sebagai naskah awal satu mushaf dan menyebarkannya di kalangan kaum Muslim.
2.      Mencocokkan antara mushaf satu dengan lainnya. Tujuannya adalah memperoleh keyakinan tentang kebenarannya dan tidak ada perbedaan antara masing-masing mushaf tersebut.
3.      Mengumpulkan mushaf-mushaf atau lembaran-lembaran sebagai catatan al-Quran dari semua negara-negara Islam, kemudian menyirnakannya.
4.      Mengharuskan semua kaum Muslim untuk membaca mushaf yang sudah dikumpulkan dan melarang mereka berpedoman kepada mushaf-mushaf dan bacaan-bacaan lain [18].
Dari segi urutan surah-surah al-Quran, mushaf Utsmani tidak jauh berbeda dengan mushaf-mushaf yang ditulis para sahabat. Sedikit perbedaan di dalam mushaf Utsmani juga dialami oleh mushaf sahabat yang satu dengan yang lain. Surah-surah panjang ditulis lebih awal dari surah-surah pendek. Huruf-huruf mushaf Utsmani tidak menggunakan titik dan tanda baca lainnya.

Kriteria umum mushaf Utsmani ialah sebagai berikut:

1.      Susunan.

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa susunan mushaf Utsmani tidak banyak berbeda dengan susunan yang ada pada mushaf-mushaf sahabat yang digunakan pada saat itu, khususnya mushaf Ubay bin Ka’b. Karena adanya kemiripan antara konteks umum surah al-Bara’ah dan surah al-Anfal, Utsman menganggap bahwa surah al-Bara’ah adalah kelanjutan dari surah al-Anfal. [19]



Apapun bentuknya, meskipun tidak ada suatu masalah yang dinukil berkenaan dengan dua surah ini, Utsman menggabungkan dua surah itu dan menganggapnya sebagai satu surah, kemudian menjadikannya surah ketujuh dari surah-surah panjang.

Dengan demikian, mushaf Utsmani berbeda dengan mushaf-mushaf yang lain, tetapi perbedaan ini dari segi didahulukan dan diakhirkannya sebagian surah-surah.

2.      Tanpa titik dan harakat

Mushaf-mushaf milik Utsmani tidak memiliki harakat dan petunjuk yang sesuai dengan khat yang berlaku di tengah-tengah masyarakat Arab pada waktu itu yang bisa dijadikan sebagai pembeda huruf-huruf yang bertitik dan yang tidak bertitik.

Oleh karena itu tidak ada bedanya antara huruf Ba’, Ta’, Ya’ dan Tsa’ dan juga Jim, Ha’, Kha’. Begitu pula dengan harakat. Tidak ditandai dengan fathah, kasrah, dhammah, dan tanwin [20].







BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa ada perbedaan latar belakang pengumpulan al-Quran pada masa khalifah Abu Bakar as-Shiddiq dengan Utsman bin Affan. Latar belakang pengumpulan al-Quran pada masa Abu Bakar adalah kekhawatiran akan hilangnya al-Quran dikarenakan banyaknya para penghafal al-Quran yang gugur dalam perang Yamamah yaitu peperangan melawan orang-orang murtad dan orang-orang yang ingkar membayar zakat.

Pengumpulan pada masa ini adalah memindahkan al-Quran dan menuliskannya dari catatan-catatan para sahabat di pelepah kurma, kulit-kulit binatang, dan batu-batu tipis ke dalam satu mushaf dengan tertib ayat yang diajarkan Rasul.

Sedangkan pengumpulan pada masa khalifah Utsman bin Affan dilatarbelakangi oleh adanya fenomena perbedaan bacaan al-Quran yang dapat mengakibatkan perpecahan umat Islam. Pengumpulan yang dilakukan Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf diantara ketujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum Muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.






Utsman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu ke dalam satu mushaf dengan menertibkan atau menyusun surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa Quraisy saja dengan alasan bahwa al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka (Quraisy), sekalipun pada mulanya memang diizinkan membaccanya dengan bahasa selain Quraisy guna menghindari kesulitan dalam membacanya. Dan menurut Utsman keperluan ini sudah berakhir, karena itulah Utsman membatasinya hanya pada satu dialek saja.





















DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal.
Seluk Beluk Al-Quran. Jakarta : PT Rineka Cipta, 1992
Al Ibrariy, Ibrahim.
Pengenalan Sejarah  Al-Quran. Jakarta Utara : PT RajaGrafindo Persada, 1995.
Al-Qattan, Manna’ Khalil.
            Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran.
Bogor : PT Pustaka Litera AntarNusa, 2009.
As-Shalih, Subhi.
Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran.
Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991.
As-Shiddieqy, M. Hasbi.
            Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir.
            Jakarta : PT Bulan Bintang, 1992.
Aziz, Moh Ali.
Mengenal Tuntas Al-Quran. Surabaya : Imtiyaz, 2012.
Ma’rifat, Muhammad Hadi.
Sejarah Al-Quran. Jakarta : Al-Huda,
2007.
Musyafa’ah, Sauqiyah. Kholid, Abdul. Zuhdi, Ahmad. Rohman, Abid. Muflikhatul, Khoiroh.
Studi Al-Quran. Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2013.
Musyafa’ah, Sauqiyah. Kholid, Abdul. Zuhdi, Ahmad. Rohman, Abid. Muflikhatul, Khoiroh.
Studi Al-Quran. Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2014.

Yusuf, M. Kadar.
            Studi Alquran. Jakarta : AMZAH, 2014
Zuhdi, Masjfuk.
Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya : CV Karya Abditama, 1997







         


                            



[1] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, Jakarta, AMZAH, 2014, Cetakan ke 2, Hlm 37
[2] Ibrahim Al Ibrariy, Pengenalan Sejarah Al-Quran, Jakarta Utara, PT RajaGrafindo Persada, 1995, Cetakan ke 3, Hlm 71
[3] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya, CV Karya Abditama, 1997, Cetakan ke 5, Hlm 78
[4] Zainal Abidin, Seluk Beluk Al-Quran, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1992, Cetakan ke 1, Hlm 34
[5] Moh .Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Quran, Surabaya, Imtiyaz, 2012, Cetakan ke 3, Hlm 52
[6] Zainal Abidin, Seluk Beluk Al-Quran, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1992, Cetakan ke 1, Hlm 35R
[7] Ibid, Hlm 35
[8] Moh .Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al-Quran, Surabaya, Imtiyaz, 2012, Cetakan ke 3, Hlm 55
[9] Sauqiyah Musyafa’ah, Amir Maliki, A.Zuhdi, Abid Rohman, Studi Al-Quran, Surabaya, UIN Sunan Ampel Press, 2013, Cetakan ke 3, Hlm 45
[10] Muhammad Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Quran, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke 2, Hlm 164
[11] Sauqiyah Musyafa’ah, Abd. Kholid, A.Zuhdi, Abid Rohman, Muflikhatul Khoiroh, Studi Al-Quran, Surabaya, UIN Sunan Ampel Press, 2014, Cetakan ke 4, Hlm 44
[12] Sauqiyah Musyafa’ah, Abd. Kholid, A.Zuhdi, Abid Rohman, Muflikhatul Khoiroh, Studi Al-Quran, Surabaya, UIN Sunan Ampel Press, 2014, Cetakan ke 4, Hlm 45.
[13] Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1991, Cetakan ke 2, Hlm 84
[14] Ibrahim Al Ibyarly, Pengenalan Sejarah Al-Quran, Jakarta Utara, PT Raja Grafindo Persada, 1995, Cetakan ke 3, Hlm 77
[15] Ibrahim Al Ibyarly, Pengenalan Sejarah Al-Quran, Jakarta Utara, PT Raja Grafindo Persada, 1995, Cetakan ke 3, Hlm 78

[16] Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor, PT Pustaka Litera AntarNusa, 2009, Cetakan ke 13, Hlm 198
[17] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Quran, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke 2, Hlm 168
[18] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah Al-Quran, Jakarta, Al-Huda, 2007, Cetakan ke 2, Hlm 163
[19] Ibid, Hlm 174
[20] M. Hasbi As-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Jakarta, PT Bulan Bintang, 1992, Cetakan ke 14, Hlm 105

65 komentar:

  1. Terimakasih sekali artikel ini sangat membantu dalam menjawab pertanyaan yang terlintas dikepala saya👍

    BalasHapus
  2. Masyaallah sangat bermanfaat ilmunya kak, semoga semakin sering update agar dapat membantu orang banyak.....

    BalasHapus
  3. Bahasa yang digunakan penulis sangat baik, dan tidak berbelit-belit saya lebih mudah untuk memahami cerita-nya. Terima kasih, saya menjadi tahu pembukuan Al-Qur'an pada masa Utsman bin Affan.

    BalasHapus
  4. جيد جدا ... نأمل أن تنتج أعمالا كتابية جيدة وصحيحة. انتظار الورقة التالية

    BalasHapus
  5. subhanallah alhamdulillah, isi sangat bermanfaat untuk menambah wawasan
    semoga lebih baik untuk karya selanjutnya
    sukses selalu

    BalasHapus
  6. subhanallah alhamdulillah, isi sangat bermanfaat untuk menambah wawasan
    semoga lebih baik untuk karya selanjutnya
    sukses selalu

    BalasHapus
  7. subhanallah alhamdulillah, isi sangat bermanfaat untuk menambah wawasan
    semoga lebih baik untuk karya selanjutnya
    sukses selalu

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah ilmunya semoga bermanfaat bagi yang lainnya

    BalasHapus
  9. Isinya bermanfaat , dan menambah wawasan aqoooo... SEMANGAT ADEEELLLL 🥰💞

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah bgitu bnyak wawasan yang saya dapatkan dari pembahasan ini, trimah kasih atas ilmuny,keep strong💪🏻

    BalasHapus
  11. masyaallah sangat bermanfaat sekali ilmu yang ada di dalamnya. semoga tetap selalu memberikan ilmuilmu yang bermanfaat

    BalasHapus
  12. alhamdulillah, terima kasih banyak. semoga ilmu yang telah dibagikan dapat bermanfaat. aamiin..

    BalasHapus
  13. alhamdulillah, tulisan ini sangat bermanfaat bagi saya. saya jadi tau bagaimana proses pembukuan pada masa Utsman

    BalasHapus
  14. Wah makalanya bagus sekali semoga makala ini dapat bermanfaat bagi saya dan yang lainnya amin

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah teruslah berkarya nak. Tulisanku sangat bermanfaat bagi orang lain. Tante dukung kamu :)

    BalasHapus
  16. Selamat ya atas karyanya, kata katanya mudah dipahami, sayang judulnya kurang menarik untuk pembaca, but well done

    BalasHapus
  17. Semoga tulisannya bisa bermanfaat bagi orang banyak. Aamiin. Goodluck buat adelll

    BalasHapus
  18. Wah subhanallah artikel ini sangat bagus dan berguna untuk pembelajaran yg belum kita ketahui sebelumnya

    BalasHapus
  19. wah bagus banget materinya, sangat membantu dalam mempelajari dan memperdalam ilmu kita. semoga barokah.

    BalasHapus
  20. terima kasih kakak sudah membagikan ilmunya, semoga bermanfaat bagi kita semua aamiin

    BalasHapus
  21. Bismillah.. Assalamu'alaikum Wr. Wb. Subhanallah, temanku Adelia Rizka Putri sudah menjadi insan yang nggenah, alhamdulillah

    BalasHapus
  22. Semoga dengan adanya materi tentang Studi alquran ini bisa membuat kita lebih paham isi dan asal usul alquran, amin🙏

    BalasHapus
  23. Assalamualaikum ukhti terima kasih atas peranya telah membagikan ilmunya semoga dapat nilai a dari dosen nya ya sekian dan terima kasih

    BalasHapus
  24. alhamdulillah masyaallah makalahnya sangat membantu sayaa terimakasih banyak ya semogaaa kedepamnya lebih baik

    BalasHapus
  25. Makalah bagus sekali kak,semoga bermanfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pembaca aminnnn

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah blog ini sangat bermanfaat karena menambah wawasan saya. Bahasanya juga mudah dimegertim terimakasih atas ilmunya.

    BalasHapus
  27. Semangat jangan jadikan ini beban ya, mata kuliah yang paling berkesan menurut ku. Sukses selalu.

    BalasHapus
  28. Tanya dong. Waktu pembukuan pake kertas apa?

    BalasHapus
  29. Makasih kak buat ilmunya,, semoga bisa manfaat buat semua orang 🙏

    BalasHapus
  30. MasyaAllah sangat bermanfaat sekali, terimakasih

    BalasHapus
  31. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  32. masyaallah alhamdulillah makasih bnyak makalahmya sangat membantu semoga kedepannya makin baik lagi aamiin aamin

    BalasHapus
  33. Masyaallah makalah ini bisa membantu saya untuk masa study saya dan menjadi motivasi saya agar menjadi yang terbaik dalam moto kehidupan saya adalah berlomba lomba l dalam kebaikan

    BalasHapus
  34. Sebelumnya terimakasih, semoga ilmu ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

    BalasHapus
  35. makalah nya baik tetap istiqamah dalam belajar dan semangat dalam mencapai hal hal baru semoga bermanfaat bagi orang banyak

    BalasHapus
  36. Makalah ini sangat baik menurut saya, perlu di apresiasi. Sangat memberikan manfaat terhadap pembaca atau yang mendrngarkan

    BalasHapus
  37. Cukup lengkap, bagus buat nambah pengetahuan. Good job

    BalasHapus
  38. Semoga Ilmunya bermanfaat bagi pembaca dan mengalirkan pahala bagi penulis :)

    BalasHapus
  39. Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu baru, semoga ilmu ini bermanfaat untuk kita semua Aamiin

    BalasHapus
  40. Alhamdulillah kak penyampaian materinya tidak berbelit belit sehingga saya paham atas materi yang telah dipublikasikan semoga barokah ilmunya

    BalasHapus
  41. alhamdulillah, tulisan ini sangat bermanfaat bagi saya. saya jadi tau bagaimana proses pembukuan pada masa Utsman

    BalasHapus
  42. wow sangat bagus dan bermanfaat sekali makalah ini. terimakasih kpd penulis karena telah membagikan wawasan yg sangat berguna bagi kita semua.

    BalasHapus
  43. Keren sekali kak penyampaian materinya, saya suka sekali, pemaparannya mudah dimengerti dan jelas. Semangat kak!

    BalasHapus
  44. Semoga ilmunya bisa barokah dunia akhirat baik bagi penulisnya maupun pembacanya!! :)

    BalasHapus
  45. alhamdulillah dapat wawasan baru lagi. semoga ilmu nya bisa manfaat iya, semangat lagi

    BalasHapus
  46. آمل أن يكون المقال مفيدًا ، وآمل أن يكون أولئك الذين يقرأون قد حصلوا على المعرفة ، قد وصلوا إلى المقالة المثالية

    BalasHapus
  47. alhamdulillah saya mendapatkan wawasan dan ilmu yang baru lagi dari artikel ini, terima kasihh yaa!!!!

    BalasHapus
  48. Sangat bermanfaat bagi pembaca, ditunggu karya selanjutnya, sukses selalu kak

    BalasHapus
  49. Alhamdulillah, makalah ini bermanfaat , semakin menambah pengetahuan kita, terimakasih kak

    BalasHapus
  50. Sebelumnya terimakasih atas ilmunya, seboga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

    BalasHapus
  51. sangat bermanfaat untuk generasi millenial seperti saya terima kasih mbak adel

    BalasHapus
  52. bagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi saya dan yang membaca

    BalasHapus
  53. Masyaallah mbak adell, makalahnya muwantuel beuts sangat indormatif bagi saya yg membaca makasih mbak adel

    BalasHapus
  54. Alhamdulillah dengan tulisan ini jadi lebih tau latar belakang pembukuan pd masa ustman, terimakasih:)

    BalasHapus
  55. Alhamdulillah dengan ini dapat menambah wawasan dan memperdalam ilmu terimakasih

    BalasHapus
  56. Makasih ya kak,, untung saya nemuin refrensi yg recommended bat di makalah ini,,wish U luck

    BalasHapus
  57. Alhamdulillah sukak banget sama isi blognya, bermanfaat makasih ya kak, semoga kedepannya makin berkembang lagi dan bisa bermanfaat buat orang lain bagus isinya :)

    BalasHapus
  58. wahh sangat membantu sekali ...

    BalasHapus
  59. Sangat membantu sekali materinya

    BalasHapus
  60. Subhanallah,sangat menambah ilmu pengetahuan saya.dan semoga untuk kedepannya bisa lebih baik lagi.

    BalasHapus
  61. dilihat lihat dan dibaca berulang kali sepertinya karya tulis ini copy paste dehhh..

    BalasHapus
  62. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  63. Nah setelah saya membaca blog ini, jujur di blog ini si penulis menyusun kata kata dan kalimat sangat rapi dan kata katanya tidak bertele-tele, entah apa yang merasuki si penulis untuk membuat blog ini dapat dikemas dengan sedemikian rapi dan si pembaca bisa menambah ilmu setelah membaca blog ini.

    BalasHapus